Dalam senja cinta yang penuh ragu,
Hatimu terpikat pada tubuh yang terpandang.
Namun, cinta kita kini layu,
Dilanda ombak keegoisan yang terlupakan.
Dia lelaki yang tubuhnya seperti seni,
Bentuknya menari dalam bayangan keinginan.
Namun, cintamu padanya membuatku terluka,
Seakan kureng dalam ketiadaan.
Tubuh yang terpilih bukanlah segalanya,
Cinta sejati tumbuh dalam kedalaman hati.
Tapi engkau memilih kilau fisik yang bersinar,
Meninggalkan kita dalam reruntuhan rasa.
Kini, aku tersadar dalam kepedihan,
Cinta yang kandas, pilu terhampar di mata.
Bukanlah kecantikan tubuh yang abadi,
Namun kebersamaan yang tulus dan setia.
Dalam pelukanmu, kuabaikan penampilan,
Hanya hati yang terjalin dalam kehangatan.
Namun, kau lebih memilih kulit yang berseri,
Membuang cinta yang dulu tercipta indah.
Biarkanlah ombak memutuskan takdir,
Cinta yang kandas, aku biarkan pergi.
Meski kepergianmu membawa lara,
Hatiku percaya, cinta sejati takkan luntur.
Dalam hening, kuhembuskan puisi ini,
Tentang cinta yang hancur karena pilihan.
Semoga kau temukan yang sejati,
Meski ku tinggalkan di dalam derita.

0 Komentar