Dahulu kau berikan sempak sebagai tanda,
Simbol cinta, meski sederhana, terasa indah.
Namun kini, terasa getir dalam hati,
Sempak itu menjadi kenangan yang terasa basi.
Dalam kain yang sederhana, tersimpan kisah,
Canda tawa kita, dan cinta yang bersinar.
Namun waktu berlalu, kini kau bersama yang lain,
Sempak itu menjadi saksi bisu, sepi terpampang.
Meski kau telah pergi, sempak itu tetap di sini,
Menjadi saksi diam cinta yang pernah tumbuh.
Tapi sekarang, hati terasa pilu,
Melihatnya, mengingatkan pada kisah yang kini usai.
Sempak itu tergantung di sudut kenangan,
Seakan bertanya, mengapa kau pergi meninggalkan.
Meski terasa pahit dalam setiap helai kain,
Sempak itu mengajarkan tentang cinta yang terkadang tak sejalan.
Biarlah waktu menjadi tukang penyembuh luka,
Meski sempak itu tetap jadi kenangan pahit.
Kukenang senyuman dan tawamu yang dulu,
Meski kau telah pergi, kuucapkan selamat tinggal, sayang.

0 Komentar