Malam itu aku berencana melepasnya saat mencapai puncak.
Tapi urung terjadi,
Lebih tepatnya, tidak sempat.
Rindu yang meletup membuat pergumulan itu semakin nikmat.
Desah, desis, percakapan, dan segala variasinya, adalah candu bagiku.
Sampai tubuhmu mengeras, dan begitupun tubuhku, erangan panjang dan rembesan cairan hangat menyadarkanku.
"Harusnya aku melepasnya," batinku.
Kucabut penisku, dan ... terlambat. Kulihat cairan putih sebagian keluar dari lubangmu yang lembut.
Aku tampak khawatir, dan mungkin juga kamu.
"Keluar di dalam?" tanyamu.
Aku mengangguk pelan.
Segera kubersihkan bagian intim kami berdua, sambil mengumpulkan keberanian untuk ke klinik kesehatan sebulan kemudian.

0 Komentar